Thursday, May 29, 2014

Robot PNUP Berjaya di Kontes Robot 2014 di Mataram

Gambar Ilustrasi
Tim robot Politeknik Negeri Ujung Pandang berhasil menjuarai tiga kategori lomba pada ajang Kontes Robot Indonesia (KRI) 2014 Regional V di Universitas Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB) pada 22-25 Mei lalu.

Pembantu Direktur III Bidang Kemahasiswaan PNUP, Drs Muslimin MT MHum mengatakan PNUP menempatkan tiga tim robotnya sebagai pemenang yaitu
  • Kaluara sebagai juara 1 kategori Kontes Robot Pemadam Api Berkaki (KRPAI Berkaki), 
  • PK-10 sebagai juara 1 kategori Kontes Robot Pemadam Api Beroda (KRPAI Beroda), dan 
  • Palekko_MP sebagai juara 1 kategori Kontes Robot Seni Indonesia (KRSI).

KRI merupakan ajang kontes robot yang diadakan secara nasional dan merupakan agenda tahunan Dirjen Dikti Kemendikbud. KRI 2014 dibagi menjadi lima regional.

Untuk KRI Regional V di Mataram diikuti sebanyak 77 tim yang berasal dari 29 perguruan tinggi negeri dan swasta dari wilayah timur Indonesia meliputi Bali, NTB, NTT, Kalimantan, Sulawesi dan Papua.

“Kegiatan KRI diselenggarakan secara rutin guna mendorong kreativitas mahasiswa terutama untuk mendorong dan memotivasi mahasiswa dalam penguasaan teknologi selain sebagai implementasi ilmu pengetahuan yang didapatkan secara teoritis,”ujarnya.

Pemenang Kontes Robot Indonesia di tingkat regional akan mewakili regionalnya pada tingkat nasional pada 18-22 Juni 2014 di Yogyakarta.

Selanjutnya,  pemenang dari pertandingan di tingkat nasional tersebut selanjutnya akan mewakili tim Indonesia untuk berlaga di ABU Robocon 2014 yang dilaksanakan pada tanggal 24 Agustus 2014 di kota Pune India.

"tim robot PNUP kembali optimis berpeluang untuk bisa tampil sebagai pemenang di salah satu kategori tersebut mengingat pada KRI 2013 tingkat nasional tim robot PNUP berhasil menjadi juara 1 untuk kategori KRSI," tambahnya. (*)

Sumber: http://makassar.tribunnews.com

Thursday, May 1, 2014

Caleg DPRD Sulsel Yang Terpilih

 
Berikut Ini Nama-nama caleg yang lolos pada Dapil masing-masing:

Dapil  I : Makassar A 
  1. Adnan Puricta IYL  ( Golkar )
  2. Rahmatika Dewi  ( Nasdem )
  3. Edewar Horas  ( Gerindra )
  4. Andi Enre Cecep Lantara  ( Demokrat )
  5. Rudi Pieter Goni  ( PDIP )
  6. Ashabul Kahfi  ( PAN )
  7. Sri Rahmi  ( PKS )
  8. Imbar Ismail  ( Hanura )
  9. Abd. Wahid  ( PPP ) 

  Dapil  II : Makassar B 
  1. Haedar Majid  ( Demokrat )
  2. Erna AP  ( Gerindra )
  3. Imran Tenri Tatta  ( Golkar )
  4. Jafar Sodding  ( PKS )
  5. Alexander Palinggi  ( Hanura )
  6. Yusran Paris  ( PAN )
    1.  
    2.  
    3.  

      Dapil III : Gowa,Takalar
  1. Tenri Olle Y.L ( Golkar )
  2. Fahruddin Rangga ( Golkar )
  3. Abd Chalik Suang ( Gerindra )
  4. Usman Lonta ( PAN )
  5. Dahlan Gege ( Nasdem )
  6. Mallarangang ( PKS )
  7. Asrul Makkaraus ( PPP )
  8. Nuraini Ma’mur ( Demokrat )
  9. Yusuf Bangsawan ( PDIP ) 

  Dapil IV : Bantaeng, Selayar 
  1. Hoist Bachtiar – Golkar
  2. Ina Nur syamsina – Demokrat
  3. M Aras Hasan – Gerindra
  4. Alimuddin – PDIP
  5. Sugiarti MK – PPP
  6. Ariadi Arsal – PKS
  7. Syamsuddin Karlos – PAN
 
   Dapil V : Bulukumba, Sinjai
  1. Moh. Roem  ( Golkar )
  2. Irwan Pattawari  ( Demokrat )
  3. Edy Manaf  ( PAN )
  4. Yusran Sofyan  ( Gerindra )
  5. Usdar Ahmad   ( Hanura )
  6. Arun Spink  ( Nasdem )  

   Dapil VI : Maros, Pangkep, Barru dan Pare-pare 
  1. Sofyan Syam  ( Golkar )
  2. Andi Mirza Riogi  ( Golkar )
  3. Pangeran Rahim ( Golkar )
  4. Nimatullah H ( Demokrat )
  5. Muslimim Daud  ( Gerindra )
  6. Sangkala Taepe  ( PAN )
  7. Muslim Salam  ( Nasdem )
  8. Taufik Zainuddin  ( PPP )
  9. Wawan Mataliu  ( Hanura )

   Dapil VII : ( Bone )
  1. Yagkin Padjalangi  ( Golkar
  2. Rusni Kasman  ( Golkar )
  3. Yushar Hudhury  ( Golkar )
  4. A. Mangunsidi M  ( Gerindra )
  5. Syahrir  ( Demokrat )
  6. A. Irwandi Nasir  ( PAN )
  7. Muh. Taslim  ( PKS )

  Dapil VII : ( Soppeng dan Wajo )
  1. Akbar Singke  ( Nasdem )
  2. A. Marzuki Wadeng  ( Golkar )
  3. Henny Latief  ( Gerindra )
  4. Selle KS Dalle  ( Demokrat )
  5. A. Nurhidayati  ( PPP )
  6. Anwar Sadat  ( PKB )
  7. Baso Syamsul Rizal  ( PKS )

Dapil IX : ( Enrekang, Pinrang, Sidrap )
  1. Tenri Andi Sose ( Golkar )
  2. Rusdin Tabi Gerindra )
  3. Jamaluddin  Jafar ( PAN )
  4. Syahruddin Alrif  ( Nasdem )
  5. Nupri B ( Demokrat )
  6. Jumardi Haruna  ( PBB )
  7. M Ali Usman  ( Hanura )
  8. Syahrir Langko ( PPP )
  9. Abdullah Tappareng  ( PDIP )
   Dapil X  ( Tana Toraja, Toraja ) Utara 5 Kursi
  1. Daniel Daan Pongtasik (PDIP),  
  2. Alfrita Danduru (Golkar), 
  3. Surya Bobi (Demokrat), 
  4. Firmina Tallu Lembang (Gerindra), 
  5. Pendi Bangdatu (Nasdem). 
 
   Dapil XI ( Palopo, Luwu Timur dan Luwu utara )
  1. Risha Arjuna (Golkar)
  2. Armin Mustamin Toputiri (Golkar)
  3. Hamka Hidayat (Demokrat)
  4. Sarce Bandaso (PDIP)
  5. Husmaruddin (PAN)
  6. Drs. Marjono (Gerindra)
  7. Hj. Jahidah Ilyas (PKS)
  8. Wahyuddin M Nur (Hanura)
  9. M. Rajab (Nasdem)
  10. Hafid Pasiangan (PPP)
  11. Ahmad Sunari Rafi (PKB)
 
 
 Sumber: http://misi-indonesia.blogspot.com
 

Monday, April 28, 2014

Download Lagu Toraja

Pintu Gerbang Tana Toraja

       Kumpulan Lagu Toraja dalam Format MP3. Silahkan Klik tombol Download.

    • KILALAIKAN DIKKA SANG BARA
           http://www.ziddu.com/download/3038721/KilalalaikanDikkasangbara_NEW.mp3.html
         

    • MATARAN BILLA'
           http://www.ziddu.com/download/3949901/Mataramblla.mp3.html


    • DA'NA MAGIANG PENAMMU
           http://www.ziddu.com/download/3949901/Mataramblla.mp3.html

      • MATUMBARI MUTAMPENA'
            http://www.ziddu.com/download/3949901/Mataramblla.mp3.html
         
        • LEMBANG SURA'
               http://www.ziddu.com/download/3949901/Mataramblla.mp3.html


        • MALI' PENANGKU
               http://www.ziddu.com/download/3949901/Mataramblla.mp3.html
           
          • MALEKO TANG MEPA'SA'BI
                 http://www.ziddu.com/download/3949581/Malekotangmakpesakbi02.mp3.html


          • SA'BA'RA KO RENDENG
                 http://www.ziddu.com/download/3949901/Mataramblla.mp3.html

          • SIULU' UMBA MU OLA
                 http://www.ziddu.com/download/3949901/Mataramblla.mp3.html

            • SUMPUMO RANNUNGKU
                   http://www.ziddu.com/download/3949901/Mataramblla.mp3.html

              • TAE' PADANNA
                     http://www.ziddu.com/download/3949901/Mataramblla.mp3.html

                • TONTONG KUKAMPAI
                       http://www.ziddu.com/download/3949901/Mataramblla.mp3.html


                • KAMAMALIRAN
                       http://www.ziddu.com/download/3949901/Mataramblla.mp3.html


                • KE KUKILALAI
                       http://www.ziddu.com/download/3949901/Mataramblla.mp3.html


                •  APAMORA TU KASALANGKU
                       http://www.ziddu.com/download/3949901/Mataramblla.mp3.html


                • SA'BARA' KO UNTAYANNA'
                       http://www.ziddu.com/download/3949901/Mataramblla.mp3.html


                • ADA CINTA DI TORAJA
                       http://www.ziddu.com/download/3949901/Mataramblla.mp3.html


                • DIPARAMPO
                       http://www.ziddu.com/download/3949901/Mataramblla.mp3.html


                • KABORO'KU
                       http://www.ziddu.com/download/3949901/Mataramblla.mp3.html


                • MUPAKARANNU NA'
                       http://www.ziddu.com/download/3949901/Mataramblla.mp3.html


                • PATONGANNA'
                       http://www.ziddu.com/download/3949901/Mataramblla.mp3.html

                  • TRIO AMBISI - PUANG
                         http://www.ziddu.com/download/3949901/Mataramblla.mp3.html


                  Dapatkan  Juga Koleksi terbaru MP3 toraja gratis DISINI 
                  Mari dukung pariwisata Toraja dengan meng Klik dan Like WONDERFUL TORAJA

                  Sisemba' (Kick Fighting) Adu Kekuatan Kaki

                  Sisemba’ " Kick Fighting" adalah salah satu keunikan dari banyaknya keunikan Toraja. Ini adalah satu atraksi budaya Toraja yang mungkin tidak ada di daerah lain. acara ini sangat menarik untuk disaksikan karena atraksi ini lebih mirip dengan tauran namun sisemba ini hanya menggunakan kekuatan kaki. Atraksi ini biasanya dilakukan pada saat selesai panen semacam acara syukuran yang dilaksanakan dalam sebuah acara unik. Sebelum acara ini di mulai peserta dibagi dalam 2 kelompok massal yang saling berhadapan biasanya 2 orang saling berpasangan berpegangan tangan pesertanya mulai dari anak anak sampai orang tua tetapi dibedakan dalam kelompok anak anak dan orang dewasa, kalau masalah fisik,berat, tinggi disni tidak diperhitungkan yang penting punya nyali akan tetapi kita harus ingat kalau ini hanya sebuah permainan daerah yang tidak menyediakan asuransi kecelakaan .

                  Ketika semua sudah siap entah siapa yang memulai duluan kedua kelompok saling menyerang dengan tendangan keras yang mendarat di ujung kaki sampai ujung kepala di iringi teriakan teriakan khas toraja yang membuat atraksi semakin menarik dan seru untuk disaksikan. Peserta yang jatuh tidak boleh lagi diserang sampai bangkit kembali dan siap untuk diserang. Meskipun ini hanya sebuah atraksi permainan rakyat namun peserta sangat serius bahkan mereka sampai lupa mana kawan mana lawan yang penting ada yang menjadi sasaran tendangan keras namun mereka tetap punya batas bukan berarti di perbolehkan mencelakai lawan. Kalaupun ada peserta yang tidak bisa mengontrol emosi dan sudah di anggap terlalu kasar maka tokoh adat segera bertindak memisahkan atau mengeluarkan peserta itu dari arena. Terkadang karena begitu semangatnya tak heran jika banyak peserta yang mengalami cidera, keseleo, luka akibat kerasnya tendangan lawan namun kembali lagi bahwa ini hanya sebuah atraksi permainan dan disini tidak ada dendam sampai keluar arena. Ini sebuah tradisi yang harus dilestarikan bersama.

                  Berikut ini beberapa Foto Atraksi Sisemba

                  Silahkan saksikan video sisemba' dibawah ini.

                  Cerita Ma' Nene' "Menganti Baju Jenazah" di Toraja

                  Kisah Mayat Membalas Budi

                  Tana Toraja: Kabut tipis menyelimuti pegunungan Balla, Kecamatan Baruppu, Tana Toraja, Sulawesi Selatan, pertengahan Agustus silam. Namun, kabut tersebut perlahan mulai tersibak dinginnya angin pagi. Hari ini, kesibukan luar biasa terjadi pada setiap penghuni warga Baruppu. Mereka tengah menggelar sebuah ritual di tempat awal mula sejarah dan misteri anak manusia yang mendiami Kecamatan Baruppu. Ritual yang selalu digelar seluruh warga Baruppu untuk melaksanakan amanah leluhur. Ma`nene, sebuah tradisi mengenang para leluhur, saudara, dan handai taulan lainnya yang sudah meninggal dunia.


                  Kisah Ma`nene bermula dari seorang pemburu binatang bernama Pong Rumasek, ratusan tahun lampau. Ketika itu, dirinya berburu hingga masuk kawasan hutan pegunungan Balla. Di tengah perburuannya, Pong Rumasek menemukan jasad seseorang yang meninggal dunia, tergeletak di tengah jalan di dalam hutan lebat. Mayat itu, kondisinya mengenaskan. Tubuhnya tinggal tulang belulang h
                  ingga menggugah hati Pong Rumasek untuk merawatnya. Jasad itu pun dibungkus dengan baju yang dipakainya, sekaligus mencarikan tempat yang layak. Setelah dirasa aman, Pong Rumasek pun melanjutkan perburuannya.
                  Sejak kejadian itu, setiap kali dirinya mengincar binatang buruan selalu dengan mudah mendapatkannya, termasuk buah-buahan di hutan. Kejadian aneh kembali terulang ketika Pong Rumasek pulang ke rumah. Tanaman pertanian yang ditinggalkannya, rupanya panen lebih cepat dari waktunya. Bahkan, hasilnya lebih melimpah. Kini, setiap kali dirinya berburu ke hutan, Pong Rumasek selalu bertemu dengan arwah orang mati yang pernah dirawatnya. Bahkan, arwah tersebut ikut membantu menggiring binatang yang diburunya.

                  Pong Rumasek pun berkesimpulan bahwa jasad orang yang meninggal dunia harus tetap dimuliakan, meski itu hanya tinggal tulang belulangnya. Maka dari itu, setiap tahun sekali sehabis panen besar di bulan Agustus, setiap penduduk Baruppu selalu mengadakan Ma`nene, seperti yang diamanatkan leluhurnya, mendiang Pong Rumasek.

                  Bagi masyarakat Baruppu, ritual Ma`nene juga dimaknai sebagai perekat kekerabatan di antara mereka. Bahkan Ma`nene menjadi aturan adat yang tak tertulis yang selalu dipatuhi setiap warga. Ketika salah satu pasangan suami istri meninggal dunia, maka pasangan yang ditinggal mati tak boleh kimpoi lagi sebelum mengadakan Ma`nene. Mereka menganggap sebelum melaksanakan ritual Ma`nene status mereka masih dianggap pasangan suami istri yang sah. Tapi, jika sudah melakukan Ma`nene, maka pasangan yang masih hidup dianggap sudah bujangan dan berhak untuk kimpoi lagi.

                  Meski warga Baruppu termasuk suku Toraja. Tapi, ritual Ma`nene yang dilakukan setiap tahun sekali ini adalah satu-satunya warisan leluhur yang masih dipertahankan secara rutin hingga kini. Kesetiaan mereka terhadap amanah leluhur melekat pada setiap warga desa. Penduduk Baruppu percaya jika ketentuan adat yang diwariskan dilanggar maka akan datang musibah yang melanda seisi desa. Misalnya, gagal panen atau salah satu keluarga akan menderita sakit berkepanjangan.
                  Dalam bahasa Bugis, Toraja diartikan sebagai orang yang berdiam di negeri atas atau pegunungan. Namun, masyarakat Toraja sendiri lebih menyukai dirinya disebut sebagai orang Maraya atau orang keturunan bangsawan yang bernama Sawerigading. Berbeda dengan orang Toraja pada umumnya, masyarakat Baruppu lebih mengenal asal usulnya dari Ta`dung Langit atau yang datang dari awan.

                  Lama kelamaan Ta`dung Langit yang menyamar sebagai pemburu ini menetap di kawasan hutan Baruppu dan kimpoi dengan Dewi Kesuburan Bumi. Karena itu, sering terlihat ketika orang Toraja meninggal dunia, mayatnya selalu dikuburkan di liang batu. Tradisi tersebut erat kaitannya dengan konsep hidup masyarakat Toraja bahwa leluhurnya yang suci berasal dari langit dan bumi. Maka, tak semestinya orang yang meninggal dunia, jasadnya dikuburkan dalam tanah. Bagi mereka hal itu akan merusak kesucian bumi yang berakibat pada kesuburan bumi.

                  Kali ini, keluarga besar Tumonglo melakukan ritual Ma`nene, seperti tahun-tahun sebelumnya. Sejak pagi, keluarga ini sudah disibukkan serangkaian kegiatan ritual yang diawali dengan memotong kerbau dan babi. Bagi keluarga Tumonglo maupun sebagian besar masyarakat Toraja lainnya pesta adalah bagian yang tak terpisahkan setiap kali menghormati orang yang akan menuju nirwana. Meski mereka sudah banyak yang menganut agama-agama samawi, adat dan tradisi yang diwariskan para leluhurnya ini tak mudah ditinggalkan.

                  Kini, tiba saatnya keluarga Tumonglo menjalani ritual inti dari Ma`nene. Di bawah kuburan tebing batu Tunuan keluarga ini berkumpul menunggu peti jenazah nenek Biu–leluhur keluarga Tumonglo yang meninggal dunia setahun lalu–diturunkan. Tak jauh dari tebing, kaum lelaki saling bergandengan tangan membentuk lingkaran sambil melantunkan Ma`badong. Sebuah gerak dan lagu yang melambangkan ratapan kesedihan mengenang jasa mendiang yang telah wafat sekaligus memberi semangat pada keluarga almarhum.

                  Bersamaan dengan itu, peti jenazah pun mulai diturunkan dari lubang batu secara perlahan-lahan. Peti kusam berisi jasad nenek Biu. Keluarga Tumonglo mempercayai bahwa ada kehidupan kekal setelah kematian. Sejatinya kematian bukanlah akhir dari segala risalah kehidupan. Karena itu, menjadi kewajiban bagi setiap keluarga untuk mengenang dan merawat jasad leluhurnya meski sudah meninggal dunia beberapa tahun lalu. Dalam ritual ini, jasad orang mati dikeluarkan kembali dari tempatnya. Kemudian, mayat tersebut dibungkus ulang dengan lembaran kain baru oleh masing-masing anak cucunya.

                  Di desa Bu`buk, suasananya tak jauh beda dengan desa lainnya di Kecamatan Baruppu. Di tempat ini keluarga besar Johanes Kiding juga akan melakukan Ma`nene terhadap leluhurnya Ne`kiding. Sebelum ke kuburan, masyarakat dan handai taulan berkumpul di pelataran desa di bawah deretan rumah tradisional khas Toraja, Tongkonan.

                  Pagi itu, mereka disuguhi makanan khas daging babi oleh keluarga besar Johanes untuk disantap beramai-ramai. Setelah selesai, masyarakat, dan handai taulan keluarga Johanes mulai berangkat menuju kuburan nenek moyang. Namun, kuburan yang dituju bukan liang batu seperti umumnya, melainkan Pa`tane yakni rumah kecil yang digunakan untuk menyimpan jasad para leluhur mereka.
                  Acara dilanjutkan dengan membuka dua peti yang berisi jasad leluhur. Mayat yang sudah meninggal setahun yang lalu itu dibungkus ulang dengan kain baru. Perlakuan itu diyakini atas rasa hormat mereka pada leluhur semasa hidup. Mereka yakin arwah leluhur masih ada untuk memberi kebaikan. Dalam setiap Ma`nene, jasad orang yang meninggal pantang diletakkan di dasar tanah. Karena itu, para sanak keluarga selalu menjaganya dengan memangku jasad leluhurnya. Tak ayal, tangis kepiluan kembali merebak. Mereka meratapi leluhurnya sambil menyebut-nyebut namanya. Jasad yang sudah dibungkus kain baru pun dimasukkan kembali ke dalam rumah Pa`tane. Kini, keluarga Johanes pun telah selesai melaksanakan amanah leluhur.

                  sumber: (vivanewsforum)

                  Sunday, April 27, 2014

                  Anjungan Toraja di Pantai Losari Makassar

                  Anjungan Toraja
                  Berkunjung ke Makassar tanpa ke Pantai Losari itu terasa kurang lengkap. Apalagi dengan adanya reklamasi Pantai Losari yang membuatnya semakin indah dan tertata rapi. Pantai Losari sudah tak sendiri dan kesepian lagi, jika setahun sebelumnya sudah diperkenalkan Anjungan Bugis - Makassar maka di penghujung tahun 2013 kembali diperkenalkan Anjungan Toraja - Mandar. Struktur bangunannya hampir mirip dengan adanya patung khas dari masing - masing daerah.
                  Awalnya Sulawesi Selatan memang terdiri dari 4 suku yaitu Bugis, Makassar, Toraja dan Mandar namun semenjak terbentuknya Provinsi Sulawesi Barat maka suku Mandar terpisah dari Sulawesi Selatan. Tak perlu kecewa, karena sejarah telah mencatat bahwa suku Mandar tetaplah bagian dari masyarakat Sulawesi Selatan terbukti dengan adanya Anjungan Mandar. Intinya Pantai Losari sekarang semakin lengkap dan keren, anda penasaran bagaimana bentuk Anjungan Toraja mandar. Untuk lebih lengkapnya ikuti penjelasan dibawah ini.

                  Anjungan Toraja berada di kawasan jalan penghibur tepatnya di sebelah utara tulisan Pantai Losari. Terdapat tulisan TORAJA sebagai tanda bahwa adanya suku Toraja di Sulawesi Selatan. Bukan hanya itu, ada juga patung tedong bonga, perempuan penari dengan pakaian adat toraja dan miniatur rumah adat tongkonan. Terkhusus untuk patung tedong bonga sangat terpampang jelas dengan corak warnanya yang khas. Tedong Bonga (Kerbau Belang) di Toraja itu harganya sangat mahal jika dirupiahkan sekitar ratusan juta dan biasa dijadikan persembahan upacara adat untuk para kalangan atas. Kesimpulannya Jika tak punya banyak waktu untuk berkunjung ke Toraja, cukup datang ke Pantai Losari namun itu tak cukup mengenal lebih dalam tentang Toraja.

                   
                  Patung Penari Toraja

                  Patung Tedong Saleko

                  Patung Replika Rumah Tongkonan
                  Suku Toraja dikenal dengan kearifan lokalnya tentang memaknai arti sebuah kematian dan pemakaman. Ada banyak tourist asing dan lokal berkunjung ke Toraja karena rasa penasarannya dengan upacara adat Toraja yang mengadakan pesta ketika ada sanak keluarganya yang meninggal. Jangan heran jika destinasi wisata di Toraja kebanyakan kuburan dan upacara adat walaupun panorama alam Toraja juga tak kalah indahnya. Tak hanya itu rumah adat Toraja dikenal dengan rumah Tongkonan yang memiliki bentuk yang berbeda dengan rumah adat lainnya.
                  Sumber: http://www.indonesianholic.com
                  Back To Home


                  Thursday, April 24, 2014

                  Caleg DPR RI Sulsel Yang Lolos ke Senayan


                  Caleg DPR RI Dapil Sulawesi Selatan yang terbagi kedalam 3 dapil yang akan melenggang ke Senayan Jakarta. Wilayah Sulawesi Selatan (Sulsel) dibagi menjadi tiga dapil untuk pemilihan anggota DPR RI. Pembagian Sulsel menjadi tiga daerah pemilihan berdasarkan jumlah penduduk 9.368.107 jiwa dengan alokasi 24 kursi.

                  Dapil Sulsel I
                  Dapil ini Dapil 1 meliputi Kota Makassar, Kabupaten Gowa, Takalar, Jeneponto, Bantaeng, dan Kabupaten Kepulauan Selayar. Dapil 1 yang disebut sebagai Sulsel I mendapat alokasi 8 kursi.

                  1. Hamka B Kadi (Golkar)
                  2. Aliyah Mustika (Demokrat)
                  3. Azikin Soltan (Gerindra)
                  4. Indira Chunda Tita Syahrul (PAN)
                  5. Tamsil Linrung (PKS)
                  6. Dewie Yasin Limpo (Hanura)
                  7. Amir Uskara (PPP)
                  8. Ridwan Wittiri (PDIP)
                  Dapil Sulsel II
                  Dapil 2 atau Sulsel II dengan 9 kursi meliputi Kabupaten Sinjai, Bone, Maros, Bulukumba, Pangkep, Barru, Soppeng, Wajo, dan Kota Parepare.
                  1. Andi Rio Pajalangi (Golkar)
                  2. Iwan D Aras (Gerindra)
                  3. Syamsul Bahri (Golkar)
                  4. Nasyit Umar (Demokrat)
                  5. Taufan Tiro (PAN)
                  6. Andi Ghalib (PPP)
                  7. Akbar Faizal (Nasdem)
                  8. Syamsul Niang (PDIP)
                  9. Akmal Pasluddin (PKS)
                  Dapil Sulsel III

                  Dapil 3 atau Sulsel III meliputi Kabupaten Sidrap, Enrekang, Luwu, Luwu Utara, Luwu Timur, Tana Toraja, Toraja Utara, Pinrang, dan Kota Palopo. Sulsel III mendapat alokasi 7 kursi.
                  1. Fuziah P Hatta (Golkar)
                  2. Andi Nawir P (gerindra)
                  3. Fatamawati RMS (PPP)
                  4. Markus Nari (Golkar)
                  5. Bahrum Daido (Demokrat)
                  6. Amran (PAN)
                  7. Lutfy A. Mutty (Nasdem)

                  Sumber:  http://pemilihan.info

                  Baca Juga:
                  1. Caleg Toraja Utara yang berpeluang lolos.
                  2. Hasil Perolehan Suara Caleg Tana Toraja