Showing posts with label BUDAYA & WISATA. Show all posts
Showing posts with label BUDAYA & WISATA. Show all posts

Friday, March 4, 2016

5 Macam Kuburan Unik di Toraja


Berbicara tentang wisata bertema kematian di dunia ini mungkin tak ada yang lebih menarik dari toraja. ya toraja, tanah yang dijuluki Negerinya Orang Mati yang Hidup. Bisa dikatakan tak ada wisata kematian yang lebih sempurna dari toraja. mulai dari persiapan prosesi upacara adat pemakaman yang melibatkan banyak orang, prosesi upacara rambu solo' yang dilakukan berhari-hari dan menghabiskan biaya sampai miliaran rupiah, proses penguburan yang unik seperti memanjat tebing-tebing untuk memasukkan jenasah kedalam lubang-lubang batu dan jenis-jenis kuburan yang unik mungkin tak akan ditemukan di tempat lain. Sebuah proses panjang kematian di toraja yang menarik untuk disaksikan. Perlu diketahui wisata kematian di toraja tak hanya sampai di acara penguburan masih ada sebuah tradisi unik yang langkah dan sangat menarik. Ma' nene' sebuah tradisi membersihkan dan menganti  pakaian mayat yang sudah bertahun-tahun dikubur. Mungkin sudah sering kita melihat di internet atau sosial media tentang foto mayat yang berdiri dengan berbagai macam judul/Tag mulai dari MAYAT BERJALAN,  MAYAT BERDIRI dan ada juga yang menyebutnya MAYAT BERDASI. Tradisi ini masih dilakukan di beberapa kampung ditoraja sebagai wujud syukur keluarga dan menghargai leluhur yang sudah meninggal.
Mereka Menyebutnya Mayat Berdasi
Terlalu banyak hal-hal unik pada ritual kematian di toraja yang mungkin tak akan habis diceritakan satu-persatu dalam lembaran-lembaran kertas dan berbagai postingan postingan di dunia maya. Pada tulisan kali ini Portal Solata akan membahas tentang kematian di toraja tapi bukan tentang upacara rambu solo yang mahal ataupun mayat berdasi yang membuat buku kuduk berdiri, namun yang akan dibahas adalah tentang tempat penyimpanan mayat atau kuburan tempat berakhirnya prosesi panjang acara rambu solo'.
*****
Mendengar kata "kuburan" mungkin yang akan terbersit dalam pikiran anda adalah sesuatu yang menyeramkan atau arwah - arwah yang gentayangan, tapi itu takkan ada temui di toraja justru kuburan di toraja ramai dengan bule-bule cantik dan wisatawan lokal.
Tidak seperti daerah lain yang hanya memiliki 1 atau 2 jenis kuburan. Toraja sebagai salah satu tempat yang unik memiliki 5 jenis kuburan yang lain dari pada yang lain . Apa sajakah itu???

1. KUBURAN GOA
Tidak seperti daerah lain goa adalah sebuah tempat wisata untuk melihat keindahan stalaktit dan stalagmit tapi berbeda dengan goa di toraja, ketika kita memasuki goa disana kita tidak akan melihat indahnya stalaktit dan stalakmit tapi kita akan disambut dengan peti-peti mayat dan tengkorak tengkorak manusia tentunya dengan suasana yang agak sedikit mistis. Masyarakat toraja mempunyai sebuah tradisi menyimpan mayat di dalam goa entah apa yang menjadi alasannya dan tradisi ini tetap dilakukan sampai sekarang. Kuburan jenis ini banyak di jumpai di toraja seperti di Londa, Tampang Allo Sangalla dan di beberapa tempat lain.
Kuburan Goa di LONDA
Kuburan Goa Tampang Allo di Sangalla'
2. KUBURAN GANTUNG
Salah satu jenis kuburan yang unik dan agak aneh terdengar di telinga yaitu kuburan gantung. Saat kita mendengar kata kuburan gantung mungkin kepala akan sedikit berpikir keras membayangkan bagaimana bentuk dari kuburan gantung. Kuburan gantung adalah cara penguburan dengan cara memasukkan jenasah kedalam erong ( peti khas orang toraja ) kemudian digantungkan di tebing-tebing batu. Ada sebuah kuburan gantung yang di temukan di negara cina yang hampir sama dengan yang ada di toraja namun hingga saat ini belum jelas penyebab kesamaan ini. Kuburan gantung biasanya selalu berdampingan dengan kuburan goa jadi cukup sekali jalan untuk melihat dua jenis kuburan ini, Londa dan Kete Kesu dan Tampangallo bisa menjadi pilihan yang tepat untuk dikunjungi.
Erong yang Berisi Mayat Digantung di Tebing-Tebing Batu
Tau-Tau  di Tebing Batu digantung berdekatan dengan Mayat.
3. KUBURAN BATU "LIANG"
Kuburan ini adalah kuburan yang bisa dibilang sebagai salah satu kuburan yang membutuhkan keahlian khusus untuk membuatnya. Keahlian memahat batu, disinilah kita akan melihat jiwa seni dari pemahat-pemahat batu di toraja. Sebuah batu yang sangat besar akan dipahat  dan dibuat lobang-lobang di sampingnya untuk menyimpan jenasah. Proses yang cukup lama sampai berbulan-bulan untuk membuat sebuah lobang yang berukuran tidak terlalu besar biasanya berukuran sekitar 2X3 meter sampai ukuran yang panjangnya 4 meter. Disamping waktu pembuatan yang lama biaya untuk membayar sipemahat sampai puluhan juta rupiah tergantung dari besar ukuran lobang yang dibuat. Kuburan jenis ini bisa kita jumpai di objek wisata lo'ko mata, lemo dan makam raja-raja sangalla di suaya.
Objek Wisata Kuburan Batu Lo'ko Mata
Proses Pemakaman Salah Satu Keturunan Bangsawan di Suaya
Ketika mengunjungi objek wisata Suaya anda akan menemukan sebuah kuburan di bawah kaki tebing. Itulah sebuah kuburan dari saudara perempuang Puang Laso' Rinding yang bernama Puang Haji Lai Rinding. Puang Haji lai rinding tidak dimakamkan di tebing seperti saudara-saudaranya untuk menghargai ajaran agama dari puang haji lai rinding yang beragama muslim. Sebelum meninggal puang haji lai rinding berpesan agar jenazahnya dibawa kembali ke tanah kelahirannya dan dikuburkan berdampingan dengan saudara-saudaranya.

4. KUBURAN POHON "PASSILLIRAN"
Tak hanya kuburan dari batu, tanah yang memiliki sejuta keunikan ini masih memiliki satu jenis kuburan unik lagi yang mungkin tak akan di temukan dibelahan bumi manapun. Kuburan Pohon.... ya... Kuburan yang terdapat pada sebuah pohon besar yang bernama pohon tarra'. kuburan ini digunakan untuk menguburkan bayi yang meninggal di bawah umur 6 bulan. Mungkin tradisi ini terdengar aneh tapi itulah sebuah tradisi yang sudah dilakukan nenek moyang orang toraja sejak dulu kala. Sebuah pohon tarra yang berukuran besar dan masih tumbuh dilubangi kemudian jenasah dari sang bayi dimasukkan kedalam lubang pohon tersebut dan ditutupi dengan ijuk. Kita dapat menemukan jenis kuburan jenis ini di beberapa tempat di toraja. namun yang paling populer dan mudah di jangkau adalah objek wisata Kambira Baby Grave di kec.Sangalla'.
ObjeK Wisata Kambira Baby Grave


5. KUBURAN PATANE
Kuburan jenis adalah kuburan yang palim umum di toraja sehinga dapat di jumpai dimana-mana. kuburan ini memiliki macam-macam model mulai dari betuk rumah, bentuk tongkonan, atau yang berbentuk seperti peti besar. Yang perlu diketahui bahwa model dan biaya pembuatan dari kuburan ini sangat beragam ada yang sampai menghabiskan biaya sampai miliaran rupiah karena kemewahannya.
Jejeran Kuburan Patane di Kete Kesu

Dari 5 kuburan yang dibahas kali ini mungkin masih ada jenis kuburan lain yang belum sempat dituliskan kedalam postingan kali ini semoga dilain kesempatan dapat dituliskan kembali sesuai dengan saran-saran dan kritik dari pembaca.
 *****

Itulah sedikit gambaran tetang berbagai keunikan kuburan yang ada di toraja yang mungkin tidak akan di tempat lain. Semoga dengan adanya tulisan ini bisa sedikit memberikan gambaran bagi yang belum pernah mengunjungi toraja.

Sampaikan kritik dan saran ke Email: portalsolata@gmail.com
Salam Portal Solata
Kurre Sumanga'/Thank You

Monday, April 28, 2014

Cerita Ma' Nene' "Menganti Baju Jenazah" di Toraja

Kisah Mayat Membalas Budi

Tana Toraja: Kabut tipis menyelimuti pegunungan Balla, Kecamatan Baruppu, Tana Toraja, Sulawesi Selatan, pertengahan Agustus silam. Namun, kabut tersebut perlahan mulai tersibak dinginnya angin pagi. Hari ini, kesibukan luar biasa terjadi pada setiap penghuni warga Baruppu. Mereka tengah menggelar sebuah ritual di tempat awal mula sejarah dan misteri anak manusia yang mendiami Kecamatan Baruppu. Ritual yang selalu digelar seluruh warga Baruppu untuk melaksanakan amanah leluhur. Ma`nene, sebuah tradisi mengenang para leluhur, saudara, dan handai taulan lainnya yang sudah meninggal dunia.


Kisah Ma`nene bermula dari seorang pemburu binatang bernama Pong Rumasek, ratusan tahun lampau. Ketika itu, dirinya berburu hingga masuk kawasan hutan pegunungan Balla. Di tengah perburuannya, Pong Rumasek menemukan jasad seseorang yang meninggal dunia, tergeletak di tengah jalan di dalam hutan lebat. Mayat itu, kondisinya mengenaskan. Tubuhnya tinggal tulang belulang h
ingga menggugah hati Pong Rumasek untuk merawatnya. Jasad itu pun dibungkus dengan baju yang dipakainya, sekaligus mencarikan tempat yang layak. Setelah dirasa aman, Pong Rumasek pun melanjutkan perburuannya.
Sejak kejadian itu, setiap kali dirinya mengincar binatang buruan selalu dengan mudah mendapatkannya, termasuk buah-buahan di hutan. Kejadian aneh kembali terulang ketika Pong Rumasek pulang ke rumah. Tanaman pertanian yang ditinggalkannya, rupanya panen lebih cepat dari waktunya. Bahkan, hasilnya lebih melimpah. Kini, setiap kali dirinya berburu ke hutan, Pong Rumasek selalu bertemu dengan arwah orang mati yang pernah dirawatnya. Bahkan, arwah tersebut ikut membantu menggiring binatang yang diburunya.

Pong Rumasek pun berkesimpulan bahwa jasad orang yang meninggal dunia harus tetap dimuliakan, meski itu hanya tinggal tulang belulangnya. Maka dari itu, setiap tahun sekali sehabis panen besar di bulan Agustus, setiap penduduk Baruppu selalu mengadakan Ma`nene, seperti yang diamanatkan leluhurnya, mendiang Pong Rumasek.

Bagi masyarakat Baruppu, ritual Ma`nene juga dimaknai sebagai perekat kekerabatan di antara mereka. Bahkan Ma`nene menjadi aturan adat yang tak tertulis yang selalu dipatuhi setiap warga. Ketika salah satu pasangan suami istri meninggal dunia, maka pasangan yang ditinggal mati tak boleh kimpoi lagi sebelum mengadakan Ma`nene. Mereka menganggap sebelum melaksanakan ritual Ma`nene status mereka masih dianggap pasangan suami istri yang sah. Tapi, jika sudah melakukan Ma`nene, maka pasangan yang masih hidup dianggap sudah bujangan dan berhak untuk kimpoi lagi.

Meski warga Baruppu termasuk suku Toraja. Tapi, ritual Ma`nene yang dilakukan setiap tahun sekali ini adalah satu-satunya warisan leluhur yang masih dipertahankan secara rutin hingga kini. Kesetiaan mereka terhadap amanah leluhur melekat pada setiap warga desa. Penduduk Baruppu percaya jika ketentuan adat yang diwariskan dilanggar maka akan datang musibah yang melanda seisi desa. Misalnya, gagal panen atau salah satu keluarga akan menderita sakit berkepanjangan.
Dalam bahasa Bugis, Toraja diartikan sebagai orang yang berdiam di negeri atas atau pegunungan. Namun, masyarakat Toraja sendiri lebih menyukai dirinya disebut sebagai orang Maraya atau orang keturunan bangsawan yang bernama Sawerigading. Berbeda dengan orang Toraja pada umumnya, masyarakat Baruppu lebih mengenal asal usulnya dari Ta`dung Langit atau yang datang dari awan.

Lama kelamaan Ta`dung Langit yang menyamar sebagai pemburu ini menetap di kawasan hutan Baruppu dan kimpoi dengan Dewi Kesuburan Bumi. Karena itu, sering terlihat ketika orang Toraja meninggal dunia, mayatnya selalu dikuburkan di liang batu. Tradisi tersebut erat kaitannya dengan konsep hidup masyarakat Toraja bahwa leluhurnya yang suci berasal dari langit dan bumi. Maka, tak semestinya orang yang meninggal dunia, jasadnya dikuburkan dalam tanah. Bagi mereka hal itu akan merusak kesucian bumi yang berakibat pada kesuburan bumi.

Kali ini, keluarga besar Tumonglo melakukan ritual Ma`nene, seperti tahun-tahun sebelumnya. Sejak pagi, keluarga ini sudah disibukkan serangkaian kegiatan ritual yang diawali dengan memotong kerbau dan babi. Bagi keluarga Tumonglo maupun sebagian besar masyarakat Toraja lainnya pesta adalah bagian yang tak terpisahkan setiap kali menghormati orang yang akan menuju nirwana. Meski mereka sudah banyak yang menganut agama-agama samawi, adat dan tradisi yang diwariskan para leluhurnya ini tak mudah ditinggalkan.

Kini, tiba saatnya keluarga Tumonglo menjalani ritual inti dari Ma`nene. Di bawah kuburan tebing batu Tunuan keluarga ini berkumpul menunggu peti jenazah nenek Biu–leluhur keluarga Tumonglo yang meninggal dunia setahun lalu–diturunkan. Tak jauh dari tebing, kaum lelaki saling bergandengan tangan membentuk lingkaran sambil melantunkan Ma`badong. Sebuah gerak dan lagu yang melambangkan ratapan kesedihan mengenang jasa mendiang yang telah wafat sekaligus memberi semangat pada keluarga almarhum.

Bersamaan dengan itu, peti jenazah pun mulai diturunkan dari lubang batu secara perlahan-lahan. Peti kusam berisi jasad nenek Biu. Keluarga Tumonglo mempercayai bahwa ada kehidupan kekal setelah kematian. Sejatinya kematian bukanlah akhir dari segala risalah kehidupan. Karena itu, menjadi kewajiban bagi setiap keluarga untuk mengenang dan merawat jasad leluhurnya meski sudah meninggal dunia beberapa tahun lalu. Dalam ritual ini, jasad orang mati dikeluarkan kembali dari tempatnya. Kemudian, mayat tersebut dibungkus ulang dengan lembaran kain baru oleh masing-masing anak cucunya.

Di desa Bu`buk, suasananya tak jauh beda dengan desa lainnya di Kecamatan Baruppu. Di tempat ini keluarga besar Johanes Kiding juga akan melakukan Ma`nene terhadap leluhurnya Ne`kiding. Sebelum ke kuburan, masyarakat dan handai taulan berkumpul di pelataran desa di bawah deretan rumah tradisional khas Toraja, Tongkonan.

Pagi itu, mereka disuguhi makanan khas daging babi oleh keluarga besar Johanes untuk disantap beramai-ramai. Setelah selesai, masyarakat, dan handai taulan keluarga Johanes mulai berangkat menuju kuburan nenek moyang. Namun, kuburan yang dituju bukan liang batu seperti umumnya, melainkan Pa`tane yakni rumah kecil yang digunakan untuk menyimpan jasad para leluhur mereka.
Acara dilanjutkan dengan membuka dua peti yang berisi jasad leluhur. Mayat yang sudah meninggal setahun yang lalu itu dibungkus ulang dengan kain baru. Perlakuan itu diyakini atas rasa hormat mereka pada leluhur semasa hidup. Mereka yakin arwah leluhur masih ada untuk memberi kebaikan. Dalam setiap Ma`nene, jasad orang yang meninggal pantang diletakkan di dasar tanah. Karena itu, para sanak keluarga selalu menjaganya dengan memangku jasad leluhurnya. Tak ayal, tangis kepiluan kembali merebak. Mereka meratapi leluhurnya sambil menyebut-nyebut namanya. Jasad yang sudah dibungkus kain baru pun dimasukkan kembali ke dalam rumah Pa`tane. Kini, keluarga Johanes pun telah selesai melaksanakan amanah leluhur.

sumber: (vivanewsforum)

Monday, April 7, 2014

Pemotongan Kerbau Ala Toraja " Ma' Tinggoro "

Ma'tinggoro tedong (Pemotongan kerbau dengan ciri khas masyarkat Toraja, yaitu dengan menebas kerbau dengan parang dan hanya dengan sekali tebas), biasanya kerbau yang akan disembelih ditambatkan pada sebuah batu yang diberi nama Simbuang Batu.

Kerbau Tedong Bonga adalah termasuk kelompok kerbau lumpur merupakan endemik spesies yang hanya terdapat di Tana Toraja. Ke-sulitan pembiakan dan kecenderungan untuk dipotong sebanyak-banyaknya pada upacara adat membuat (sumber daya genetika) asli itu terancam kelestariannya. Menjelang usainya Upacara Rambu Solo', keluarga mendiang diwajibkan mengucapkan syukur pada Sang Pencipta yang sekaligus menandakan selesainya upacara pemakaman upacara adat Rambu Solo'(upacara untuk pemakaman).

Setiap upacara kematian di Tana Toraja pihak keluarga dan kerabat almarhum berusaha untuk memberikan yang terbaik. Caranya adalah dengan membekali jiwa yang akan bepergian itu dengan pemotongan hewan-biasanya berupa kerbau dan babi-sebanyak mungkin. Para penganut kepercayaan Aluk Todolo percaya bahwa roh binatang yang ikut dikorbankan dalam upacara kematian tersebut akan mengikuti arwah orang yang meninggal dunia tadi menuju ke puya.

Foto


  
   


Tradisi Unik Toraja "Sisemba" Kick Figting




Seperti apa tradisi petani dalam menggelar pesta panen raya di Desa Kande Api, Kecamatan Tikala Rantepao Kabupaten Toraja Utara? Tak berbeda dengan perkampungan lain yang ada di Kabupaten Toraja Utara, Provinsi Sulawesi Selatan, warga Desa Kande Api pun masih melestarikan tradisi adat budaya warisan leluhur mereka.

Setiap tahun, warga Kande Api menggelar tradisi pesta panen dengan membawa berbagai macam makanan khas seperti nasi bambu atau dikenal dengan nama peong. Pemandangan itu pula yang terjadi sekitar dua pekan silam. Diiringi dengan tari ma’gallu, serta ma’ lambukatau menumbuk padi secara beramai-ramai mereka pun berpesta. Mengawali prosesi pesta panen, terlebih dahulu salah seorang pemuka adat setempat memberikan wejangan adat (ma’parappa’) yang berisi pesan pesan leluhur tentang aturan bertani, yang hingga sekarang masih dianut oleh masyarakat setempat. Setelah itu, warga yang memadati lokasi pesta panen, disuguhkan tarian ma’gallu yang dibawakan oleh remaja putri. Tarian ini bermakna sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas hasil panen yang berlimpah. Dalam tarian ini. Warga yang merasa terhibur memberikan uang (sawer) sebagai tanda kegembiraan dan terimah kasih.Sementara itu, sebagian warga menggelar tradisi ma’lambuk atau menumbuk padi. Dalam tradisi ini, kaum pria memukul lesung dengan irama tinggi, diikuti gerakan menyerupai tarian serta teriakan khas Toraja. Warga setempat meyakini, jika irama ketukan lesung dapat mengusir hama padi. Semakin tinggi irama ketukan, maka semakin banyak hama yang diusir.Dan, yang paling unik adalah tradisi aksi adu kaki “sisemba” atau baku tendang, yang lebih terlihat seperti tawuran massal.Pasalnya, warga dari kampung tetangga, saling berhadap hadapan untuk melumpuhkan, dengan cara beradu kaki “tendang” secara massal. Bagi peserta yang jatuh, maka lawan tidak lagi diperbolehkan menyerang. Ada cara yang digunakan agar tidak mudah jatuh, mereka saling berpegangan tangan sambil menyerang dengan tendangan kaki.Tak heran jika banyak warga yang mengalami cedera, mulai dari keseleo hingga luka terbuka akibat kerasnya tendangan lawan. Namun, jika ada peserta yang sudah dianggap terlalu kasar, maka para tokoh adat segera memisahkan mereka. Walaupun terlihat kasar dan keras, namun warga yang saling tendang di lapangan bebas, tidaklah membawa dendam hingga keluar arena. Usai "sisemba", mereka bubar dan kembali akrab. “Tradisi sisemba ini bukanlah permainan anarkis, namun tradisi ini adalah sebuah keharusan warga setempat demi mendapatkan hasil panen yang berlimpah ditahun akan datang. Pasalnya, jika tidak melaksanakan tradisisisemba, maka diyakini akan berakibat gagal panen," tutur Isac Padangsulle, selaku tokoh adat Kande Api.“Pernah di suatu waktu, tradisi warisan nenek moyang ini tidak digelar, dan saat itu warga mengalami gagal panen, yang disebabkan serangan hama, dan digelarlah kegiatan tumbuk lesung, yang bertujuan mengusir hama," ungkap Isac.Bisa terlihat, tradisi warisan leluhur ini, sangatlah diyakini akan membawa berkah dengan berlimpahnya hasil panen padi. Lumrahlah jika hingga saat ini warga Desa Kande Api, masih melestarikan tradisi sisemba.

Foto 1





Foto 2



Foto 3

Thursday, February 13, 2014

Peresmian Anjungan Toraja di Losari





Pemerintah Kota Makassar akhirnya merampungkan semua pembangunan anjungan di Pantai Losari. Anjungan terakhir yang dibangun adalah Anjungan Toraja-Mandar.

Dengan demikian, terdapat tiga anjungan yang kini menjadi ikon Pantai Losari. Selain Toraja-Mandar, sebelumnya sudah ada Anjungan Bugis-Makassar dan Anjungan Pantai Losari. Khusus Anjungan MToraja-Mandar, peresmiannya dilakukan secara meriah dengan menghadirkan karnaval adat Toraja, Sabtu, 11 Januari.

Persoalan yang mencuat pasca pembangunan tiga anjungan tersebut, yakni perawatannya. Jika tak ada rasa memiliki dari semua warga Kota Makassar, maka ketiga anjungan yang dibangun dengan menghabiskan uang rakyat ratusan miliar itu, akan mubazir. Padahal, ketiganya merupakan simbol etnis di Sulsel yang tinggal di Kota Makassar.

"Kita harapkan semua warga memiliki kesadaran untuk bersama-sama menjaga anjungan ini. Ini aset kita bersama dan tanggungjab kita semua," ujar Wali Kota Makassar saat membawakan sambutan syukuran atas selesainya pembangunan Anjungan Toraja-Mandar di Pantai Losari, kemarin.

Menurut Ilham, semua yang ada di anjungan merupakan tanggung jawab semua pihak untuk menjaganya dengan alasan, objek wisata tersebut merupakan milik bersama. Jika tak ada kesadaran kolektif, maka nasibnya akan cepat rusak dan semrawut. Padahal anjungan merupakan kebanggaan baru Kota Makassar.

Ilham optimis, masyarakat akan secara bersama-sama mempertanggungjawabkan keberadaan semua anjungan di Pantai Losari, kendati itu butuh waktu perlahan-lahan untuk mengubah kebiasaan mereka. Termasuk masalah kebersihan, sudah saatnya masyarakat bersama-sama menjaganya karena di banyak titik, disediakan banyak kotak sampah.

Ketua panitia syukuran atas selesainya Anjungan Toraja-Mandar, Daniel Pakambanan, mengatakan, kegiatan ini dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur. Masyarakat Toraja di Kota Makassar, sangat mengapresiasi hadirnya anjungan yang merupakan pengakuan atas eksistensi mereka sebagai salah satu etnis besar di Makassar.

Ia mengungkapkan, sumber pembiayaan untuk kegiatam ini murni dari partisipasi warga Toraja dan Mandar. Tidak ada sumbangan dari pemerintah untuk acara syukuran tersebut. "Ini bermula dari rapat kecil. Lalu kita sepakat menyatukan pendapat untuk menggelar syukuran," katanya.



Kegiatan ini diisi dengan sejumlah pertunjukan seni dan pementasan khas Toraja dan Mamasa. Ada Tari Paondo sebagai ucapan rasa syukur dan Tari Mabugi yang juga bermakna sama. Ada juga kasidah etnis, serta tari-tarian lainnya.

Penasehat bidang tata ruang wali kota sekaligus Wali Kota Makassar terpilih, Muh Ramdhan "Danny" Pomanto, mengatakan, Anjungan Toraja Mandar merupakan miniatur Toraja dan Mandar di Kota Makassar. Ia memuji Toraja yang menurutnya, merupakan puncak arsitektur lokal terbaik di dunia.

"Jadi jika ada wisatawan datang ke Makassar, sebelum ke Toraja, inilah (anjungan Toraja-Mandar, red) katalognya," ujar Danny. Kegiatan ini dihadiri para tokoh masyarakat Toraja dan Mandar, termasuk pimpinan SKPD Pemkot Makassar.


 Sumber : fajar.co.id 
Back To Home

Tuesday, February 4, 2014

Uniknya "Tedong Silaga" Bufallo Fight di Toraja



Hari beranjak siang saat ribuan orang menyemut menuju tanah lapang di Desa Tiromanda, Kecamatan Makale Selatan, Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan, akhir tahun lalu. Mereka datang dari sejumlah wilayah di sekitar Toraja untuk menyaksikan mapasilaga tedong atau adu kerbau.
Acara digelar dalam ritual rambu solo atau upacara penguburan jenazah Bertha Mingu Kala’lembang, salah seorang keluarga bangsawan Toraja. Mapasilaga tedong dilangsungkan untuk memberikan penghiburan kepada keluarga yang berduka.
 
Saat kerbau atau tedong saling unjuk kekuatan di arena, sering kali para penonton merangsek untuk memberi dukungan. Selain itu, penonton yang ditabrak kerbau juga mewarnai ajang tersebut.Ajang adu kerbau, selain menjadi bagian dari ritual adat rambu solo, juga digunakan sebagai ajang taruhan. Para petaruh berkeliling sambil membawa segepok uang, menantang taruhan untuk kerbau yang tengah diadu meskipun pada awal lomba panitia sudah mengumumkan larangan untuk bertaruh.
 
Kerbau yang sering menang dalam adu kerbau harganya setara dengan harga mobil. Bagi masyarakat Toraja, kerbau memiliki posisi istimewa dan menjadi salah satu simbol prestise dan kemakmuran.

Foto Adu Kerbau
Sumber Foto: 
Komunitas Pencinta Tedong Silaga
Komunitas Pencinta Tedong Toraya